Kampus Megah – Universitas kini bukan lagi sekadar institusi pendidikan, tetapi juga simbol kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang sanggup membayar mahal. Gedung-gedung megah dengan desain arsitektur modern berdiri kokoh, lengkap dengan fasilitas eksklusif seperti perpustakaan digital, laboratorium canggih, hingga kafe berkelas. Namun, di balik kemewahan ini, tersimpan kenyataan pahit: biaya pendidikan yang semakin tidak masuk akal.
Setiap tahunnya, biaya kuliah terus meroket, memaksa banyak mahasiswa dan keluarganya untuk mencari pinjaman atau bekerja sambilan demi bisa menyelesaikan pendidikan. Pertanyaannya, apakah biaya yang dikeluarkan benar-benar sebanding dengan kualitas pendidikan yang diterima? Ataukah universitas hanya menjelma menjadi mesin uang yang lebih mementingkan profit daripada kualitas akademik?
Kurikulum Kuno di Era Digital
Di era teknologi yang berkembang pesat, banyak universitas justru masih berkutat dengan metode pengajaran slot kamboja. Mahasiswa di jejali teori-teori kaku yang sama sekali tidak relevan dengan realitas industri. Dosen berbicara di depan kelas, sementara mahasiswa pasif mencatat, tanpa ada ruang bagi eksplorasi atau inovasi.
Sementara dunia luar sudah berlari dengan kecerdasan buatan, big data, dan kecerdasan teknologi lainnya, di dalam ruang kelas mahasiswa masih di paksa menghafal teori dari buku teks yang sudah bertahun-tahun tidak di perbarui. Ini bukan lagi pendidikan, tetapi sekadar ritual akademik yang di jalankan tanpa mempertimbangkan relevansinya dengan masa depan mahasiswa.
Gelar Akademik: Tiket Sukses atau Sekadar Formalitas?
Dahulu, gelar sarjana adalah jaminan pekerjaan dan masa depan yang cerah. Namun, realitas saat ini berkata lain. Ribuan lulusan universitas mengantre dalam persaingan ketat untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Banyak dari mereka yang akhirnya bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan jurusannya, atau bahkan lebih parah, menjadi pengangguran berkedok “fresh graduate”.
Perusahaan tidak lagi mencari gelar semata, tetapi lebih menekankan keterampilan praktis dan pengalaman nyata. Sayangnya, sebagian besar universitas gagal membekali mahasiswanya dengan kemampuan yang di butuhkan industri. Yang tersisa hanyalah ijazah mahal yang tidak selalu memiliki nilai di mata perekrut.
Sarjana Berlimpah, Lapangan Kerja Minim
Setiap tahun, universitas terus mencetak ribuan lulusan tanpa mempertimbangkan ketersediaan lapangan kerja. Akibatnya, angka pengangguran intelektual semakin meningkat. Gelar yang dulu menjadi kebanggaan, kini berubah menjadi beban.
Mahasiswa di tuntut untuk mencari solusi sendiri—memulai bisnis, mengikuti kursus tambahan, atau bahkan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dengan harapan meningkatkan peluang kerja. Namun, apakah ini benar-benar solusi, atau justru lingkaran tak berujung yang menguntungkan universitas tetapi tidak memberi kepastian bagi mahasiswa?
Antara Ilmu dan Bisnis Pendidikan
Universitas seharusnya menjadi tempat menempa ilmu dan membentuk pemikiran kritis, bukan sekadar mesin pencetak ijazah. Namun, jika sistem pendidikan tinggi terus berorientasi pada keuntungan tanpa memperhatikan relevansi dan kualitas, maka universitas tak lebih dari sekadar ladang slot bonus new member dengan kedok akademik.